My name is Karen Kamal

LIFE.FAMILY.FRIEND

Jumat Lalu

Melangkah hati-hati
Ragu akan apa yang akan kita jumpai

Waktu senantiasa mengukir kenangan
Tapi untuk apa membiarkan diri
selalu terseret masa lalu

Batang rokok di sela jarimu hampir habis
Tak juga kata keluar dari mulutmu
Karena sudah pelu lidahmu
Hanya ada gertakan diantara gigimu

Kita dilahirkan di bumi yang sama
Namun sudah kutemukan malaikat
Jangan bilang siapapun aku menyembunyikan sayapnya

Aku bermaksud menahannya, menyimpannya di sini
Iya, diantara bilik jantungku
Biar sayapnya mengalir bersama bilur darahku
Untuk sisa hidupku

Retakan (2)

 

Kemudian apa?
Ia akan ditinggal dalam kegelapan
Diasingkan

Bukan lagi gadis kesayangan bunda
Yang dulunya selalu menemani
Menggerutu atas sulaman-sulaman menjenuhkan

Duduk di atas bangku panjang teras rumah
Menangis berdua, air mata kemarahan
Selama hidupnya ia hanya tahu luka

Retakan itu tak mungkin bisa kembali
Namun menyisakan hina dan sakit
Kemudian apa?

[Puisi] Retakan

Jika guntur yang mengoyak langit

dan usia yang menggoreskan waktu

Ia tahu itu semua, kecuali yang di hadapannya

 

Bertahun silam,

kain demi kain tua dikoyak

Cengkraman kuat gadis-gadis perawan pada kayu ranjang

 

Bertahan sekuat mungkin,

menutup mata, mengatup rahang

Darah mengalir dari setiap luka yang menganga

 

Pipi merah merona berubah putih

Sekarang di sana ia tinggal sendiri

Tinggal meretak, meretas

[Poem] Sandiwara hidup dan aktornya

Setiap potongan sandiwara itu hidup

dan kita aktornya

Lembaran-lembaran naskah berbau busuk

Sisanya menjadi penonton, lampu pentas dinyalakan

Bukankah kau takut?

Read the rest of this entry »

[Cerpen] Tato Kupu-kupu

Keduanya memiliki mata sayu kecoklatan yang indah. Mereka saling menyayangi walau terkadang mereka bertengkar. Mereka tertawa pada lelucon kecil yang paling mereka sukai, pada pria-pria yang memohon cinta mereka. Andien, gadis muda yang mandiri. Ia tidak akan pernah takluk pada pria manapun, apalagi untuk memenuhi kebutuhan finansial karena ia sudah terbiasa bekerja keras dan mencetak uangnya sendiri sejak orangtua mereka meninggal jauh sebelum ia mengerti dunia konyol yang ternyata kebanyakan orang-orangnya adalah budak uang.

Lain halnya dengan Gladys yang tertawa setiap kali berhasil mempermainkan pria-pria bodoh yang mencintai tubuhnya. Gladys si trouble maker tahu betul bahwa para bajingan itu hanya mengucapkan kata “cinta” agar dapat memasukinya. Ia terkadang menangis karena kelelahan, tapi ia akan kembali tertawa saat ia teringat seorang pria lagi akan masuk perangkapnya. Gladys merasa kasihan pada Andien yang ikut kelelahan saat ia lelah. Tapi tidak akan ada seorang pun yang dapat menghentikannya, tidak juga Andien.

Read the rest of this entry »

Siapa Namamu?

Orang-orang memanggilku bayangan
Kau menamaiku cinta
Kita lupa kapan pertama kali bertemu
Tapi kita tak terpisahkan
Layaknya detik mengikuti menit, menit mengikuti jam

Kau berdiri menghadap si pencatat waktu
saat rindu menerjang, agar bayangan tetap memanjang
Lelah dan air bening di kening jatuh berlomba-lomba pada pipi seperti air mata

Dalam waktu 3 bulan kau bentuk hati dalam rongga dada yang sudah retak
Menghidupkan kembali bayangan berbadan manusia
hingga mengisi jarak diantara jari-jarimu
membalas senyumanmu seperti sedang bercermin
selalu menciummu seperti kesetanan

Bayangan selalu menggerutu dan mengumpat pada
naskah-naskah tak berjudul yang menggerogotinya
Mereka tak bedanya belatung pemakan mayat busuk
Kau diam dan mendengar — tak pernah marah

Orang-orang memanggilku bayangan
Kau menamaiku cinta
Sekali-kali ucapkan namamu dengan lantang
karena semua bayangan punya tuan yang bernama
Ia juga akan setia pada tuannya

You Are Mine [Chapter 2]

Chapter 2

          Ibuku tidak akan pernah memahami perasaanku. Ia egois. Aku juga tidak akan pernah mengerti kenapa ayahku dulu menikahi wanita sepertinya. Kalau aku seorang pria, aku tidak akan pernah menyentuh wanita seperti ibuku. Aku tidak peduli jika orang lain menyebutku anak durhaka.

Wanita itu mungkin tidak akan pernah membiarkanku memutuskan jalan hidupku sendiri. Sampai menginjak umurku yang ke 21, ia masih terus menguliahiku kalau seorang wanita harus bersikap anggun. Mempesona di setiap kesempatan. Ia membawaku ke acara-acara arisan bersama teman-temannya dan mengenalkan pada beberapa pria asing yang lebih tua dariku, seperti acara arisan itu tidak cukup mengerikan.

Sejak kecil aku lebih dekat dengan ayahku. Ia akan membacakan dongeng untukku sebelum aku tidur sampai usiaku 5 tahun. Bukan dongeng putri-putri kerajaan yang biasanya diceritakan pada gadis-gadis kecil. Ia mengarang dongengnya sendiri. Setiap malam seusai berdongeng, ia akan menanyakanku berulang-ulang apa mimpiku. Dan setiap malam pula aku memberi jawaban yang sama, aku bermimpi mewujudkan mimpi orang-orang di sekitarku.

Read the rest of this entry »

You Are Mine [Chapter 1]

Chapter 1

          Aku ingat betul warna oranye yang mendominasi langit sore itu. Matahari di ufuk barat hampir tenggelam namun masih menyisakan teriknya saat aku berjalan sempoyongan ke atap gedung. Aku hanya ingin menyendiri setelah menenggak beberapa botol bir. Mungkin enam. Mungkin tujuh atau lebih. Aku tidak yakin. Yang kutahu, hatiku hancur. Seperti aku tak pernah sakit hati saja. Perceraian orang tuaku saat aku masih berumur 11 tahun. Di saat setiap anak tengah mulai menginjak masa-masa sulit sebagai remaja dan mencari jati diri. Persetan dengan jati diri. Omong kosong manusia-manusia sok pintar yang membuat frase “pencarian jati diri” sebagai alasan.

Julia, wanita berumur 30-an yang sudah aku kencani 3 tahun mengakhiri hubungan kita tanpa alasan. Aku telah mendengar alasannya yang tidak masuk akal, jadi aku memutuskan ia tidak memberikan alasan apapun untuk mengakhiri hubungan kita. Aku terlalu jatuh cinta padanya. Ia satu-satunya wanita yang telah membuatku bertahan dalam suatu hubungan. Yang membuatku tergila-gila setiap kita bercinta. Seorang Gerald jatuh cinta. Cih.

Read the rest of this entry »

Diam

Andai dan jika adalah teman baikku

Karena waktu meninggalkanku dengan mimpi dan penyesalan

Tubuh berteriak sekencang-kencangnya

Namun mulut tetap diam

Membiarkan hati hitam gelap karena duka

 

Kutulis sajak dan berpuisi

Berharap ia dapat bernyanyi dalam harmoni yang kau pahami

Bukankah kita hanya manusia yang berdiri atas tulang belulang

Yang mana kembali ke tanah dan diam setelah gugur

Kemudian tersisa arwah yang bersedih

 

Sampai kapan akan terkunci mulut

Percaya mata berbicara dan berteriak lebih kencang

Yakin tubuh menari lebih indah

Bermimpi kau paham tanpa kata-kata

Karena seorang pengecut akan tetap diam sampai akhir hayatnya

 

 

 

 

 

 

Mati Bersama [Karen]

Malam ini kudendangkan lagu tanpa lirik

Berpura tenang walau dada berguruh

Dua gelas anggur semerah darah diantara kita

 

Kuajak kau membuat sajak terakhir

Yang dulu selalu menjadi candu bagi hati sedih

Yang adalah iman bagi tubuhku dan nafsuku

Yang adalah darah dan oksigen dalam nadiku

 

Telah kutukar ragaku dengan iblis

Demi malam dan racun ini

Melodi yang indah menjadi latar

Nafas dan dada yang naik turun seirama

Aku tak menangis, tak ingin mata berkaca

Membuyarkan pandangan

 

Lalu binatang malam membiarkan malam ini lebih sepi

Dan bulan pucat pasi menyaksikan

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 27 other followers