“Why do you love Starbucks?”

by kqer

Pertanyaan itu yang paling sering dilontarkan oleh teman-teman kalau saya seringkali terlalu bersemangat menceritakan tentang Starbucks. Bahkan saya sendiri heran mengapa saya bisa sampai berperilaku seperti “tukang promosi” Starbucks. Kalaupun minuman yang saya pesan ternyata tidak memuaskan, toleransi saya terhadap keasalahan itu akan lebih lebar, ketimbang terhadap brand atau product lain.

But guess now I have the answers…

1.    Starbucks offers experience, not just a drink

Saat seorang customer masuk ke dalam gerai Starbucks, feeling yang didapat berbeda. Mulai dari warna coklat kayu yang hangat seperti di dalam rumah-rumah bergaya barat, music blues yang lembut senantiasa diputar ringan di dalam gerainya, dan interior design lainnya yang mampu mengajak customer yang lewat untuk datang berkunjung ke dalam gerainya. Dan kamu dapat menemukan feeling yang sama di semua gerai Starbucks yang tersebar di seluruh dunia.

2.    Prestige and lifestyle? I call it “Identity.”

Sad to say, but it’s true. Saya sudah seringkali memikirkan hal ini karena saya merasa agak tersinggung bila teman-teman berkata semua customer Starbucks hanya minum karena gengsi.  Memang harga minuman kopi itu, jika dipikir secara logika memang mahal untuk ukuran dompet orang Indonesia pada umumnya.

Salah seorang dosen saya pernah berkata bahwa untuk menunjukkan status seseorang itu memang mahal dan butuh pengorbanan. Namun seiring meningkatnya pendapatan seseorang, ia juga akan rela membayar mahal untuk “membeli” status tersebut. [Semua orang normal pasti menginginkan status social yang lebih tinggi]. Starbucks melihat peluang ini untuk membentuk brand imagenya. Starbucks bertahan sebagai brand yang dapat menyajikan minuman kopi terbaik untuk kelas terbaik.

3.    Finally, the Consistency

Menurut saya pribadi, Starbucks sangat konsisten dengan prinsipnya untuk terus mengembangkan pelayanannya (penyajian minuman kopi). Ia memberi training pada barista-baristanya dan janji akan selalu menyajikan hanya minuman yang sempurna.

Sampai pada perayaan ulang tahunnya yang ke 40, Howard memutuskan untuk menghilangkan kata “coffee” pada logonya dan customer mulai merasa khawatir kalau-kalau Starbucks mulai tidak konsisten. Namun bukan Howard namanya kalau ia tidak mampu mengatasi hal ini. Ia cepat-cepat menjelaskan bahwa Starbucks tetap konsisten akan menyajikan minuman kopi terbaik. Bahkan saat Starbucks melakukan line extension, ia memastikan coffee-ice-cream ada di ajaran menu-nya.

I really hope these explanations can answer your most asked question. Cheers!