You Are Mine [Chapter 1]

by kqer

Chapter 1

          Aku ingat betul warna oranye yang mendominasi langit sore itu. Matahari di ufuk barat hampir tenggelam namun masih menyisakan teriknya saat aku berjalan sempoyongan ke atap gedung. Aku hanya ingin menyendiri setelah menenggak beberapa botol bir. Mungkin enam. Mungkin tujuh atau lebih. Aku tidak yakin. Yang kutahu, hatiku hancur. Seperti aku tak pernah sakit hati saja. Perceraian orang tuaku saat aku masih berumur 11 tahun. Di saat setiap anak tengah mulai menginjak masa-masa sulit sebagai remaja dan mencari jati diri. Persetan dengan jati diri. Omong kosong manusia-manusia sok pintar yang membuat frase “pencarian jati diri” sebagai alasan.

Julia, wanita berumur 30-an yang sudah aku kencani 3 tahun mengakhiri hubungan kita tanpa alasan. Aku telah mendengar alasannya yang tidak masuk akal, jadi aku memutuskan ia tidak memberikan alasan apapun untuk mengakhiri hubungan kita. Aku terlalu jatuh cinta padanya. Ia satu-satunya wanita yang telah membuatku bertahan dalam suatu hubungan. Yang membuatku tergila-gila setiap kita bercinta. Seorang Gerald jatuh cinta. Cih.

Tidak habis pikir aku nekat jatuh cinta setelah melihat perceraian orang tuaku. Pasti sudah ada yang rusak di suatu bagian tersembunyi dalam otakku. Aku seorang pelukis terkenal. Aku tidak perlu mengandalkan sepersen pun dari kekayaan ayahku untuk menjadi sesukses ini. Aku bisa mengencani wanita manapun yang aku mau. Aku memiliki semua yang ingin dimiliki lelaki manapun di dunia ini. Karir sukses, nama besar, kekayaan yang tidak perlu diragukan lagi, dan seorang wanita yang baru saja membuangku seperti sampah.

Kisah cinta yang sesungguhnya tidak akan berakhir seperti ini. Tidak berakhir dengan seorang lelaki yang menemukan dirinya di atas atap sebuah gedung di kota metropolitan, dengan setelan jas mahal, dan tidak mampu berjalan lurus setelah beberapa botol bir murahan.

Aku terlalu mabuk untuk berjalan lebih jauh lagi. Toh aku sudah sampai di atap gedung. Aku duduk di sebuah pojokan bersama tong sampah. Betul, sampah sepertiku layak ditempatkan di situ. Pandanganku mulai kabur tak berapa lama aku duduk. Teriknya matahari yang sedang tenggelam membuat suasana serasa ingin mati saja. Aku ingin sekali jatuh tertidur dan tak bangun lagi selamanya.

•••

          Aku yakin sudah tertidur beberapa jam di pojokan itu. Keringat lengket membasahi tengkukku dan kemejaku. Aku melepaskan jasku dan membuangnya sembarang ke lantai. Kakiku agak susah diajak kerja sama saat aku berusaha bangun dari lantai yang keras. Aku sengaja menghirup udara agak dalam agar kuat berdiri di atas kakiku. Pandanganku masih agak kabur setelah tertidur tapi aku tidak mungkin sampai berhalusinasi.

Walau agak ragu dengan bayangan di pinggiran atap gedung, aku masih penasaran dan berjalan mendekatinya. Betul saja. Aku meyakinkan diriku sendiri bahwa aku tak mungkin salah lihat. Seorang wanita berambut pendek berdiri di pinggiran atap gedung. Langit sudah gelap dan hanya sebuah lampu neon panjang di dekat tembok atap gedung yang menerangi. Apa yang dilakukan wanita itu di tempat seperti ini, di waktu seperti ini? Otakku masih berusaha berpikir untuk beberapa saat. Apa? Jangan bilang dia mau bunuh diri.

“Hey! Apa yang kau lakukan di situ?”

Dia membalikkan kepalanya melihatku sekilas dan berbalik lagi. Ternyata seorang gadis. Mungkin baru berumur 20-an. Aku menertawakan diriku sendiri dalam hati karena aku juga masih seorang lelaki berumur akhir 20-an. Aku kembali memanggilnya.

“Hey! Cepat turun! Jangan coba-coba berpikir untuk bunuh diri di sini.”

Dia masih diam. Aku semakin gelagapan untuk membujuknya turun dari tempatnya.

“Hey! Kau masih muda. Aku yakin kau baru berumur 20 tahun. Kalau kau berpikir untuk bunuh diri karena masalahmu, aku beritahu kalau bukan hanya kamu yang punya masalah. Aku baru diputusi pacarku siang tadi. Aku sakit hati dan mabuk-mabukan tapi tidak bunuh diri.”

Aku terus mengoceh tidak jelas sampai gadis itu menggeleng kepalanya beberapa kali dan turun dari tempatnya berdiri.

“Apa yang membuat kamu berpikir aku akan bunuh diri?” suara gadis itu memecahkan kebingunganku saat ia dengan santainya berjalan ke arahku, seakan-akan tidak ada apapun yang terjadi. Namun tetap saja aku masih larut dalam kebingunganku.

Gadis itu memandangku cukup lama sampai aku tersadar bahwa aku sudah salah sangka ia akan bunuh diri. Aku mulai merasa kikuk dan malu karena sudah membeberkan semua permasalahanku beberapa menit lalu.

“Laura,” gadis itu mengulurkan tangannya dengan mantap.

“Gerald,” aku membalas uluran tangannya,”sudah berapa lama kau di sini?”

“Hmm, cukup lama untuk melihat kau berjalan sempoyongan setelah keluar dari pintu itu,” katanya sambil menunjuk pintu kecil yang menghubungkan gedung dengan atap tempat kita berdiri sekarang.

“Shit.”

“Kenapa? Kau malu karena mabuk-mabukan di depanku? Tenang saja. Walaupun aku masih muda dan kau pantas dipanggil paman, aku cukup paham kehidupan orang dewasa yang rumit.”

Aku merasa seluruh aliran darahku mengalir ke pipiku dan kontan saja aku membalik muka. Aku berusaha menutupi dengan menjawab, ”tidak.”

“Hey, omong-omong, berapa umurmu?”

“21 tahun. Paman?”

“Berhentilah memanggilku paman. Umurku belum setua itu. Aku 28 tahun. Bukankah seharusnya kau sudah pulang? Tidak baik seorang anak gadis masih keliaran jam segini.”

“Hahaha. Berhentilah mengocehiku,” ia menjawabku sambil berlalu.

Aku tidak menanggapinya dan kembali diam karena tiba-tiba teringat kenyataan Julia sudah meninggalkanku. Kenyataan ini mungkin terlalu pahit bagiku karena aku telah memberikan sepenuh hatiku untuk Julia. Aku yang biasa meninggalkan wanita-wanita yang aku kencani dan tiduri, tapi kali ini aku yang ditinggalkan.

Aku menikmati kesendirian memandangi sepinya kota malam hari dan lampu-lampu yang berjajar di sepanjang jalan. Julia, sayangku, dia juga akan berlalu seperti wanita-wanita lainnya. Sama seperti gadis tadi, Laura. Wanita. Aku harus selalu ingat wanita hanya intermezzo dalam hidupku. Aku tidak boleh seperti ini lagi. Aku harus mencangkam hal itu dalam diriku sendiri untuk tidak lagi mempercayakan hatiku pada wanita, termasuk ibuku yang meninggalkan ayahku demi pria lain.

Aku memutuskan pulang setelah beberapa lama. Setelah kepergian Julia, aku akan punya banyak waktu untuk lanjut menikmati pemandangan ini dari apartemenku yang mewah.

•••

          Sesampainya di rumah, aku mandi dan berbenah sedikit. Aku melihat beberapa baju milik Julia masih tergantung rapi dalam lemari, foto-foto dalam bingkai cantik masih terpajang di meja, dan mungkin bau parfum mahalnya masih dapat tercium di seprai ranjang dimana kita biasa bercinta.

Aku tidak ingin tidur di ranjang itu sampai seprainya diganti dan aku tidak ingin membiarkan diriku tertidur malam ini , apalagi bermimpi buruk. Jadi aku mengambil beberapa perlengkapan lukisku dan sebotol wine ke ruang kerjaku.

Biasanya tanganku yang akan membawaku larut dalam kanvas putih dan melukis apa yang ada dalam pikiranku. Aku merasa sangat beruntung tidak perlu berpikir keras apa yang ingin kulukis setiap saat. Beberapa jam kemudian aku mulai bisa melihat hasilnya.

Bulu mata yang tidak terlalu panjang tapi cukup lentik. Cahaya samar-samar yang terpantul di bola mata yang hitam kecoklatan. Alis mata yang agak tipis dan tidak beraturan. Sepasang mata di kanvasku membalas tatapanku. Bukan milik Julia. Bukan milik sederet wanita-wanita kelas atas yang aku kencani karena sudah pasti mereka tidak akan membiarkan alis mata mereka tidak tergambar rapi oleh pensil alis.

Aku tidak akan pernah menyangka malam itu aku melukis sepasang mata yang akan mengubah hidupku selamanya.