You Are Mine [Chapter 2]

by kqer

Chapter 2

          Ibuku tidak akan pernah memahami perasaanku. Ia egois. Aku juga tidak akan pernah mengerti kenapa ayahku dulu menikahi wanita sepertinya. Kalau aku seorang pria, aku tidak akan pernah menyentuh wanita seperti ibuku. Aku tidak peduli jika orang lain menyebutku anak durhaka.

Wanita itu mungkin tidak akan pernah membiarkanku memutuskan jalan hidupku sendiri. Sampai menginjak umurku yang ke 21, ia masih terus menguliahiku kalau seorang wanita harus bersikap anggun. Mempesona di setiap kesempatan. Ia membawaku ke acara-acara arisan bersama teman-temannya dan mengenalkan pada beberapa pria asing yang lebih tua dariku, seperti acara arisan itu tidak cukup mengerikan.

Sejak kecil aku lebih dekat dengan ayahku. Ia akan membacakan dongeng untukku sebelum aku tidur sampai usiaku 5 tahun. Bukan dongeng putri-putri kerajaan yang biasanya diceritakan pada gadis-gadis kecil. Ia mengarang dongengnya sendiri. Setiap malam seusai berdongeng, ia akan menanyakanku berulang-ulang apa mimpiku. Dan setiap malam pula aku memberi jawaban yang sama, aku bermimpi mewujudkan mimpi orang-orang di sekitarku.

Aku sering menghabiskan waktu bersama ayah untuk membaca buku di ruang baca kami berdua. Ibu terlalu sibuk menghadiri acara-acara arisannya untuk mengurusi kami berdua. Tak lama sebelum ayah meninggalkanku sendirian di dunia ini, ibu sering pulang dalam keadaan mabuk berat dan aku harus menyeretnya ke kamar tidurnya. Ayah selalu hanya memandang dari jauh dan kembali ke ruang bacanya sampai pagi. Aku tahu betul ayah sangat sedih tapi ia tidak mampu mengendalikan istrinya atau mungkin ia tidak ingin menyakitinya karena aku di situ. Walaupun usiaku masih muda, aku mengerti ayah mempertahankan rumah tangganya demi aku. Semakin ibu menyakiti ayah, semakin aku membencinya.

•••

          Untuk pertama kali dalam hidupku aku melihat ibu begitu tulus meminta maaf padaku untuk kesalahan yang ia lakukan 21 tahun yang lalu. Aku sungguh-sungguh tidak tahu bagaimana menghadapi sikap ibu yang demikian. Akan lebih mudah bagiku kalau dia mengatakannya saat ia mabuk, maka aku akan menganggap ia tidak sadar apa yang telah ia lakukan. Tapi kali ini ia mengatakan hal yang tidak masuk akal tersebut dalam keadaan betul-betul sadar.

Pertanyaan demi pertanyaan terlontar di kepalaku tanpa terbendung, sampai aku merasa kepalaku akan pecah karena semuanya terlalu mengejutkan. Aku memiliki saudara lain. Anak ibuku yang bukan anak ayahku.

Ibuku sudah mengkhianati ayahku? Apakah ayahku tahu ini semua? Siapa yang sesungguhnya berkhianat? Kalau ibuku yang berkhianat dan ayahku tahu, bagaimana ia masih bisa mempertahankan perkawinannya dengan ibuku sampai saat-saat terakhirnya?

Aku tidak mampu lagi berlama-lama mematung di depan ibuku. Aku harus pergi dari tempat itu secepatnya dan memikirkan semuanya sendiri. Aku meninggalkannya sendirian dan pergi ke tempat yang selama 5 tahun terakhir menjadi tempat persembunyianku.

Gedung 83 berdiri menjulang di hadapanku. 5 tahun lalu aku menemukannya karena dulunya gedung ini adalah tempat ayahku bekerja. Setiap kali aku menunggu ayahku pulang bekerja, aku akan pergi ke atap gedung dan menikmati indahnya lampu-lampu jalan dan mobil-mobil yang mengantri sampai giliran mereka untuk melewati lampu merah.

Waktu sudah menjelang malam tapi matahari masih sama gagahnya dengan gedung-gedung pencakar langit di kota, dan pantulan cahaya matahari pada kaca-kaca gedung membuatnya lebih silau. Aku mengisi paru-paruku dengan udara petang hari yang masih terik.  Aku berharap waktu berhenti untuk beberapa lama. Setidaknya kedamaian sore itu mungkin dapat mengurangi rasa sakit saat tubuhku membentur kerasnya aspal di bawah sana.

Aku menghirup udara beberapa kali lagi sambil meyakinkan diriku bahwa alasanku bunuh diri kali ini adalah benar. Ayah yang paling aku sayangi juga akan setuju bila aku melakukannya. Satu-satunya yang akan menyayangi kepergianku hanyalah ibuku yang pemabuk karena ia mungkin harus mencari orang lain untuk menyeretnya ke kamar tidur kalau dia pulang dalam keadaan mabuk berat.

Semuanya berjalan baik-baik saja, sampai muncul seorang laki-laki konyol yang kesusahan menaiki tangga atap gedung dan membuat suara gaduh. Aku tahu betul ia mabuk dan lebih parahnya ia sudah membuyarkan konsentrasiku. Aku agak mengomel dalam hati tapi toh juga memperhatikan gerak-gerik lelaki itu. Aku bertanya dalam hati apakah ia sadar ia sedang duduk di samping tong sampah, tapi kelihatannya ia tidak peduli sama sekali.

Aku agak ragu turun dari pinggiran atap gedung dan berjalan ke arahnya. Ternyata ia sudah tertidur di pojokan itu, di samping tong sampah. Jorok sekali dia, pikirku dalam hati. Aku berusaha memindahkan tubuhnya dengan menarik tangannya tapi ia tidak bergerak sama sekali. Terpaksa aku meninggalkannya tertidur di situ sampai nanti ia bangun dengan sendirinya. Ah, dia sudah menggagalkan rencanaku.

Aku pelan-pelan melihat lebih dekat ke wajahnya. Wajahnya kelihatan sangat lelah dan sepertinya udara terik membuatnya kepanasan dalam balutan jasnya yang kelihatan mahal. Entah mengapa pertanyaan ayahku tentang mimpiku tiba-tiba muncul di pikiranku. Mewujudkan mimpi orang ini? Yang benar saja?

Aku memperhatikan lebih lama wajah itu. Tulang hidung dan dagu yang kaku dan kelopak mata yang agak menjorok ke dalam. Tipikal wajah yang dimiliki oleh pria tampan seusianya. Namun kantong mata agak kehitaman di bawah kedua matanya yang sedang menutup menegaskan kesulitan yang dialaminya.

Aku merasakan hatiku tergerak pada makhluk yang tergolek tak sadarkan diri di hadapanku itu. Aku merasa kasihan padanya. Aku menarik nafas dalam beberapa kali sebelum akhirnya dengan berat hati aku memutuskan akan membantu pria berwajah lelah ini melewati masa-masa beratnya.

“Ayah, ini kali terakhir aku akan memenuhi mimpiku. Setelah itu biarkan aku menemuimu di atas sana,” kataku dalam hati. Aku yakin ayah diam-diam tersenyum. Lalu aku kembali menikmati pemandangan kota menjelang malam hari. Jalan-jalan semakin dipadati oleh mobil-mobil yang berlalu. Beberapa pekerja kantoran sebentar-sebentar memenuhi dan meninggalkan halte bus setelah beberapa bus atau taksi melewatinya. Gedung-gedung pencakar langit juga mulai berlomba menyalakan lampu-lampu penerang untuk menunjukkan keberadaannya diantara gedung-gedung lain dan gelapnya malam. Malam ini terasa sama seperti malam-malam sebelumnya. Sama seperti sebuah malam 5 tahun yang lalu, pertama kali aku mendatangi tempat ini, perasaan tentram yang sama, lampu-lampu jalan dan mobil yang sama di bawah sana, sampai aku memutuskan tempat ini menjadi tempat kesukaanku. Bedanya kali ini seorang lelaki ikut mengambil bagian.

Tak lama kemudian lelaki itu mulai tersadar, sedikit kesusahan waktu berusaha bangun dari lantai yang keras. Suaranya membuyarkan lamunanku dan ia terus mengoceh tidak jelas, hanya sangat jelas bagiku ia membutuhkan seseorang untuk melewati masalah yang sedang dihadapinya. Aku baru menyadari ia memang seorang lelaki yang tampan saat menoleh sekilas ke arahnya. Aku berinisiatif berkenalan dengannya karena sedikitnya aku harus tahu namanya kalau mau mulai berurusan dengannya. Ia agak ragu-ragu atau mungkin sedang malu karena aku memergokinya mabuk saat ia memberi tahuku namanya Gerald.

Setelah mendapatkan namanya, aku memutuskan untuk mencari tahu lebih banyak tentangnya esok hari. Masalahku sendiri dengan ibuku belum lagi selesai, aku sudah melibatkan diriku dalam permasalahan orang lain. Semoga semua berjalan dengan lancar sehingga aku bisa lebih cepat bertemu ayahku. Aku merasa lelah hari ini. Aku rindu ayahku. Semoga saja ibu sudah tertidur sesampainya aku di rumah atau aku harus menyelinap dari jendela kamarku untuk menghindarinya.

•••

           Aku bukan gadis yang bisa bangun pagi-pagi dan bersemangat untuk menjalani harinya. Tetapi pagi itu berbeda. Aku memaksakan diriku untuk keluar dari ranjang dan bersiap-siap ke gedung 83. Ada seseorang yang harus kutolong. Cepat-cepat aku mandi dan berpakaian. Aku berkata pada pembantu untuk tidak perlu repot-repot menyiapkan sarapanku karena aku hanya akan menyeruput secangkir kopi dan pergi setelahnya.

Aku berkaca sebentar sebelum berangkat dan menertawakan diriku dalam hati. Aku gadis pemalas, berambut pendek agak acak-acakan, dan memiliki sepasang mata ayahku. Cepat-cepat aku menghampiri supir pribadiku sudah siap mengantarku kemana saja sepanjang hari.

Tempat pertama yang harus kukunjungi adalah gedung 83. Aku berlari kecil ke pintu lobi. Aku menarik nafas saat mendekati meja lobi. Saat aku bertanya apakah penjaga lobi mengenal seseorang bernama Gerald. Ia memberi tahuku bahwa pria itu tinggal di sebuah loft di lantai 38 yang juga berarti hanya beda 2 lantai dari atap gedung.

Aku heran kenapa ia tidak mabuk-mabukan saja di loftnya sendiri. Dan siapa sesungguhnya Gerald ini sampai bisa memakai 1 lantai gedung kantor sebagai tempat tinggalnya. Aku menggerutu dalam hati tapi juga penasaran akan kejutan apa yang akan kutemui pagi ini di lantai 38. Lift gedung hanya memakan beberapa menit untuk membawaku ke loft miliknya.

Aku bisa langsung menemukan loftnya saat pintu lift terbuka. Tanpa sadar aku sudah berdiri di sebuah ruangan luas dan hanya dengan beberapa furnitur kayu yang membuatnya tampak lebih seperti studio. Aku berjalan pelan-pelan melewati ruangan yang agak kosong tersebut, bermaksud menemukan Gerald. Aku mulai tidak yakin ia tinggal di loft tersebut sampai aku menemukan sesosok tubuh yang meringkuk dalam selimut tebal di sofa putih panjang di seberang ruangan.

Ia belum bangun rupanya, pikirku dalam hati. Akhirnya aku memutuskan untuk berkeliling mencari tahu apa saja yang ada dalam loft tersebut. Siapa tahu aku jadi bisa lebih mengenal objek yang akan kubantu ini. Rupanya Gerald adalah seorang pelukis atau mungkin hobi melukis. Aku hanya melihat sekilas lukisan-lukisannya karena takut merusak salah satu karyanya kalau-kalau catnya belum kering. Tapi itu hanya dugaanku saja.

Ruang terakhir yang aku datangi adalah dapur. Semua peralatan dapurnya tersusun rapi dan kelihatan seperti tidak pernah digunakan. Tidak ada makanan yang bisa disajikan sebagai sarapan, baik di dapur maupun dalam kulkasnya, selain sebuah mesin kopi di atas meja dapur. Aku membuat 2 cangkir kopi untuk kita berdua sambil menunggu ia bangun kemudian duduk dekat sofanya tempat ia tertidur.

Tak lama sampai aku sudah habis menyeruput setengah isi dari cangkirku, Gerald bangun. Dari tempat dudukku aku dapat melihat ia menggeliat sedikit sebelum mengerjap matanya beberapa kali dan berusaha duduk. Saat melihatku ia kontan meloncat turun dari tempat duduknya.

“Apa yang kau lakukan di sini?” suaranya mendadak memenuhi seluruh ruangan yang bernuansa putih. Kopi dari cangkir kami berdua masih menimbulkan aroma dan semerbak yang berat namun menyegarkan. Anak burung menciut dekat kusen jendela yang besar di ujung ruang. Kedua mata tegas yang kelopaknya agak menjorok ke dalam tengkoraknya tidak mengalihkan pandangannya dariku.

“Pagi.” Aku tersenyum pada manusia di hadapanku.