[Poem] Sandiwara hidup dan aktornya

by kqer

Setiap potongan sandiwara itu hidup

dan kita aktornya

Lembaran-lembaran naskah berbau busuk

Sisanya menjadi penonton, lampu pentas dinyalakan

Bukankah kau takut?

 

Aku mau jadi penonton saja

Kau malah menamparku,”kita lahir sebagai penghibur!”

Tapi untuk siapa?

Sorot matamu marah

Aku tak yakin, membiarkan kesepian merintih menikmati

 

Si sutradara selalu mengingatkanku

Sepasang mata perempuan untuk menangis

dan hanya kata-kata manis keluar dari mulutnya

Ia tak tahu, ialah sebongkah hati yang menangis

Dari mulutnya terucap doa sekaligus sumpah serapah

Tergantung peran yang ia mainkan, ia aktor terbaik

 

Tak terhitung lagi detik dan menit yang bergulir

Jatuh ke tanah seperti tak ada harganya

Yang menunggu diinjak dan dilupakan

Walau ternyata meninggalkan jejak

Bukankah setiap detil masa lalu adalah penyesalan?

 

Aku ingat dalam tiap ikatan korset yang mengangkat dadaku tinggi-tinggi

Dalam sapuan bedak merah pada tulang pipi dan pemerah bibir

Aku ingat dalam setiap sahutan action!

dan lampu sorot yang membutakan mata

Setiap potongan sandiwara itu hidup dan kita aktornya